KEPEDULIAN TANPA PUTUS HARAPAN

Tahun 2017 telah kita lalui bersama, namun segelintir permasalahan masih turut ikut serta dalam meniti perjalanan di tahun 2018 ini. Bahkan potensial permasalahan baru pun akan menghadang di depan mata, hanya entah tahu dalam bentuk apa dan kapan waktunya.

Seperti saat ini masyarakat Indonesia sedang dihadapi krisis kepercayaan diri, hasutan, fitnahan, iri, bahkan mementingkan diri sendiri merajalela dan terus berkembang untuk mencapai setiap kepentingan. Kita tidak sadar bahwa masih banyak yang perlu diperjuangkan, tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri saja. Karena bila mementingkan diri sendiri maka kita yang berada di Indonesia ini akan tidak menjadi Indonesia lagi. Sadarkah kita, terkadang kita lebih banyak mengkritik orang lain, kelompok orang lain, daerah orang lain, bahkan negara orang lain, namun kita tidak sadar bahwa kitapun kemungkinan dikritik oleh orang lain. Saling mengkritik tidak akan ada tanda titik (.) namun akan ada selalu tanda koma (,). Sementara kita lebih sibuk hanya mengkritik orang lain saja tanpa ada aksi yang membangun atau peduli bagi sesama. Bila terus seperti itu, kita akan tertinggal dari kelompok, daerah, bahkan negara lain yang sudah keluar dari zona krisis kepercayaan diri untuk maju bersama dan membangun bersama. Di saat maju dan membangun bersama sudah tidak ada tempat lagi untuk dibangun dan akhirnya keluar untuk mengembangkan diri. Apakah kita siap dengan pengembangan orang lain yang potensial mencaplok yang sebenarnya adalah lahan kita? Saya yakin kita dengan situasi saat ini kebanyakan belum siap.

Maka dari itu, mari bersama-sama kita mempersiapkan diri. Seperti kutipan di salah satu TV swasta yang mengatakan Indonesia adalah kita. Kita sebagai masyarakat Indonesia membutuhkan masyarakat yang sehat. Belum optimalnya masyarakat Indonesia sehat secara jasmani, muncul memperparah sakit secara rohani. Kita seharusnya sebagai masyarakat yang kuat dalam rohani mengingat sudah lebih dari setengah abad (71 tahun RI merdeka) kebersamaan itu terjalin sesama beda suku, adat, ras, dan agama.

Apakah kesehatan secara jasmani kita diamkan dulu untuk memprioritaskan kesehatan rohani kita? Saya pikir harus berjalan beriringan, karena kesehatan secara jasmani saat ini masih sangat jauh tertinggal terutama di daerah pelosok/pedalaman yang potensial masih belum tersentuh kesehatan modern. Tidak perlu memikirkan kesehatan rohani karena di daerah pelosok/pedalaman seperti daerah Kalimantan yang dibutuhkan adalah mereka ingin sehat secara jasmani yang mampu produktif dan menghasilkan untuk penghidupannya dan bagi keluarganya secara terus menerus.

Kami Yayasan Harapan Taheta yang fokus pada sosial hanya di bidang kesehatan, mengajak setiap orang, kelompok, ataupun lembaga berkenan bersama-sama untuk ikut peduli mengoptimalkan kesehatan secara jasmani bagi masyarakat yang penuh harap untuk mendapat pertolongan dengan keterbatasannya. Dengan sendirinya akan terpelihara kesehatan rohani karena memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Perayaan Tahun Baru di tahun 2018 sama seperti tahun-tahun sebelumnya maupun yang akan datang yang harus dijalani, tetapi yang perlu mendapat perayaan adalah barunya pemikiran kita untuk sebuah pembaharuan berani peduli sesama, membangun bersama dalam sebuah harapan tanpa putus untuk berharap.

Salam,

Dedy Baboe
Ketua Yayasan Harapan Taheta

Similar Posts